Pagi itu sangatlah dingin, mentari pun tak mau beranjak dari tidur
pulasnya. Langit terasa masih merah entah atau perasaanku saja, yang jelas
dalam mataku sejak malam kupijakkan kaki disini bulan tak ditemani
kerlap-kerlip itu lagi. Dan kini, tatkala punggung belum melemaskan
urat-uratnya dan nyawa pun belum kembali seutuhnya, perjalanan masih berlanjut.
17 Agustus 2014, tepatnya pukul 05.00 dengan ditemani lelah perjalan
Ponorogo-Cikarang, kami berdua aku dan Azzam
beranjak dari Cikarang tempat kami menginap menuju ke Jakarta tempat
Presiden Republik Indonesia betugas. Istana Negara, sebuah tempat yang begitu
syakral dalam pandangan masyarakat luas, namun akan sia-sia petualangan kita
kali ini jika kami tidak bisa mematahkan mindset tersebut. Benar
sekali tujuan perjalanan kami kali ini yaitu Istana Negara, “yeah finally this
is my second time, Welcome to Jekardahh” Azzam said, sedikit tengangah dengan
pencakar langit itu akupun tak mau kalah “Oke, I’m absolutely with you but this
is also the first time for me, Welcome to Jekardahh” (J).
Namun di tengah perjalanan hatiku terasa terketuk akan sebuah gejolak
yang tak biasa, ada sesuatu yang memaksa fikiranku untuk mengingatnya kembali,
mimpi yang telah lama hilang dan kini berujung dengan pertemuan. Bundaran HI
mengingatkanku bahwa ini adalah Jekardah (Jakarta..) yang takkan terpisahkan
olehnya bangunan tua dan tak ada dua, minimalis tapi eksotis, serta megah namun
bersejarah. Mimpi yang terinspirasi dari sebuah buku karya A.Fuadi itu perlahan
akan terwujud, tak kusangka baru sebulan lalu aku menulisnya 21 Juli 2014 (di
Aula SMAN 1 Ponorogo, siang ketika persiapan Buber Lintas Generasi) dan kini
sebentar lagi akan terwujud. Di dalam mobil terlihat sudah Bundaran HI kami
lewati dan sebentar lagi Menara nan megah akan muncul, sesaat kulihat mentari
tertutup sebuah Menara nan tinggi di tambah sinarnya menyilaukan penglihatanku,
bulu kuduk seakan berdiri menyabut air dingin yang bercucuran dari dahi,
perasaan dingin apa ini ? semua jawaban itu ada pada apa yang kusaksikan
sekarang ini.



0 Komentar untuk "Menara Pertama"