Berbagi bukankah Keren ?

bertemu Tere Liye (but..)



Ponorogo, 17 Juni 2015

Kepada
Republika
Jl.
Warung Buncit Raya No.37
Jakarta 12510

Teruntuk diriku di masa depan,
Pernah kuberpikir jauh tentangmu, apa, dan siapa dirimu, walaupun masih gaib tak terbayang namun inginku genggam. Jika memang tak pernah bisa sampai, tetap akan kucapai dan walaupun tentangmu adalah harapan sebanyak laut berbuih akan tetap kuraih karena engkau adalah diriku yang belum bersatu serta bersenggrama bersama kerja keras dan luka perjuangan, namun kini dengan semangat yang membara kubawa sebuah harapan menuju singgasana masa depan, menuju tempatmu kawan, langit biru tanpa awan diriku menyatu bersamamu di puncak impian.

Untuk seorang yang lahir di kota berkembang beruntung aku masih bisa mendapatkan edukasi kebudayaan yang beragam, dengan fifthy-fifthy fluktuasi peradabaan yang mengantarku tumbuh kritis terhadap kesadaran berbudaya di masa depan. Ponorogo, inilah kotaku, hidupku, dan segala impianku berada di sini di kota penuh kesenian dan budaya yang aku banggakan serta menjadi sebuah identitas diriku sekarang dan aku berharap engkau juga di masa depan.

Berada dalam adat yang terikat Kesenian Reyog Ponorogo menunjukkan tajinya dalam mata dunia Nasional maupun Internasional. Terbukti dalam Festival Reyog Nasional (FRN) yang setiap tahun diadakan di Ponorogo, seluruh wilayah Nusantara dari Sabang sampai Merauke berlomba-lomba menunjukkan tim Reyog terbaik dari wilayahnya. Tidak hanya itu, aku juga berharap suatu saat engkau menjadi bagian darinya, bagian dari tim Reyog Desaku yang telah diundang sampai Malaysia dan Hongkong untuk menyajikan sebuah suguhan yang luar biasa dari Kesenian Reyog Ponorogo ini. Seperti kota lain yang mempunyai semboyan mereka sendiri, kotaku ini juga memiliki semboyan yang tentunya masih bercirikan tentang kesenian asalnya yaitu REOG (Resik Endah Omber Girang Gemirang) yang artinya kurang lebih Ponorogo kota yang bersih, indah, serba diberi kelebihan sehingga masyarakatnya gembira dan sejahtera. Hal ini mengukuhkan integritas Reyog sebagai identitas masyarakat Ponorogo pada khususnya dan Kota Ponorogo pada umumnya.

Tapi, miris kini kutemui sesuatu yang tak pernah kuharapkan pada diriku di masa depan, sesuatu yang kutakutkan hilang dari diriku sekarang namun kutemukan pada keluarga dan teman. Bangga terhadap kota asal dengan segala adat dan budayanya tak sedikitpun terasa padanya, seakan hilang bergeser dengan kebiasaan dan tingkah laku di perantauan. Pulang berganti bahasa yang tak pernah terdengar sebelumnya, “kon yo opo kabare rek?” (kamu gimana kabarnya kawan?) sapa pertama darinya dengan Bahasa Jawa Surabaya yang walaupun intinya sama Jawa namun bercirikan berbeda. Walau Bhinneka Tunggal Ika, namun terasa berbeda seperti bukan dia, apalagi jika mulai bangga dengan gemerlapan perantauan dan mengklasikkan kampung halaman, sekali lagi ini bukan dirimu kawan. Baju Penadon, yang sering kau pakai ketika mengiringiku bermain Reyog, walaupun hanya bercanda, sebutan “seperti dukun” itu melukai rasa. Jika kau tahu, memakainya walaupun tak sedang mengiringi Reyog, orang sudah tahu kalau kau berasal dari Ponorogo karena baju inilah salah satu identitas kita. Tak apa jika kau tak mau memakainya lagi, namun jangan pernah malu mengakui bahwa kota asalmu adalah Kota Reyog, Ponorogo.

Dari hati yang paling dalam aku pun begitu, inginku menjajal hidup di perantauan, meninggalkan kampung halaman untuk menjemput diriku di masa depan. Namun, aku takut sesuatu sangat buruk terjadi padaku dan merubah hidupku menjadi seorang yang tak seperti dulu, aku tak ingin apa yang terjadi pada temanku juga terjadi padaku. Memang semakin luntur rasa bangga dan hilangnya identitas kita selalu menjadi fakta utama dan bukan hanya opini belaka. Maka, pada tahun 1987 Bupati Subarkah melihat fenomena ini dan melahirkan gagasan kreatif untuk mendirikan Gapura Dadak Merak di setiap pintu masuk desa. Tidak hanya sebagai ucapan selamat datang saja, gapura ini tentunya menjadikan sebuah identitas budaya dan memberi isyarat kepada setiap mereka yang masuk, bahwa inilah Ponorogo dengan segala ciri khasnya. Tak mau kalah, diriku juga bercita mendirikan sebuah restoran dengan Gapura Dadak Merak sebagai ucapan selamat datangnya dan Baju Penadon sebagai seragam pramusajinya serta kuberi nama restoran ini dengan nama “Panaragan” yang berarti semua tentang Ponorogo. Semoga engkau menyetujui ideku ini wahai diriku di masa depan.

Ya, begitulah kawan diriku dengan segala rencana dan kekawatiranku terhadap dirimu di masa depan. Mungkin aku terlalu berharap dengan semua itu, namun karena harapan itulah semangatku terjaga. Semoga engkau setia menungguku di sana di puncak impian.

Selalu semangat menggapaimu



(Erwan Yova Ady Pratama)
2 Komentar untuk "bertemu Tere Liye (but..) "

Back To Top